Merdu Bambu dan Gamelan: Serunya Belajar Musik Tradisi di ISI Yogyakarta
- September 08, 2026
Musik
nusantara menjadi guru terbaik bagi siswa SMP Mutiara Persada pada Kamis, 27
Agustus 2026. Bertempat di Gedung Ethnomusicology, Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta, para siswa mengikuti kegiatan Outdoor Learning yang membawa
mereka menyelami dunia seni musik tradisional secara langsung dari sumbernya.
Gedung
Ethnomusicology sendiri merupakan bagian dari Fakultas Seni Pertunjukan ISI
Yogyakarta yang berdiri sejak 1984 dan menjadi pusat kajian musik etnik
nusantara, mulai dari teknik pertunjukan hingga dokumentasi budaya musik.
Bertempat di kompleks kampus ISI di kawasan Sewon, Bantul, gedung ini kerap
menjadi tujuan kunjungan edukatif bagi siswa dari berbagai sekolah yang ingin
mengenal lebih dekat kekayaan musik tradisional Indonesia.
Dalam kunjungan ini, siswa SMP Mutiara Persada mendapatkan penjelasan menarik seputar dunia seni dari para pengajar dan mahasiswa Etnomusikologi. Mereka diajak memahami bagaimana musik tradisional lahir dari kebudayaan masyarakat, serta bagaimana instrumen-instrumen etnik seperti gamelan menyimpan filosofi dan nilai sosial yang mendalam di baliknya.Namun yang membuat kegiatan ini paling berkesan tentu saja sesi praktik langsung. Siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi diajak memegang dan memainkan sendiri alat musik gamelan serta angklung di bawah bimbingan para pengajar. Suara gamelan yang berpadu dengan tabuhan pelan siswa yang masih belajar, serta gemerincing angklung yang dimainkan secara bersama-sama, menciptakan suasana belajar yang riang sekaligus penuh makna. Momen ini menjadi pengalaman langka, mengingat tidak semua sekolah berkesempatan berlatih musik tradisional langsung di kampus seni sekelas ISI Yogyakarta.
Hal
menarik lainnya, siswa juga menyadari bahwa bermain gamelan bukan sekadar
memukul instrumen secara asal, melainkan membutuhkan kekompakan, kesabaran, dan
kepekaan mendengarkan pemain lain sebuah pelajaran kerja sama yang tak kalah
penting dari pelajaran musik itu sendiri. Begitu pula dengan angklung, di mana
setiap siswa memegang peran nada tertentu yang harus dimainkan tepat waktu agar
tercipta harmoni yang indah.
Melalui
kegiatan ini, siswa SMP Mutiara Persada tidak hanya memperoleh wawasan baru
tentang seni musik tradisional Indonesia, tetapi juga belajar menghargai
warisan budaya bangsa yang selama ini mungkin jarang mereka sentuh secara
langsung. Pengalaman memainkan gamelan dan angklung dengan tangan sendiri
diharapkan menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap kekayaan budaya
nusantara, sekaligus membuka wawasan siswa tentang beragamnya jalur pendidikan
dan profesi di bidang seni.
Outdoor
Learning ke ISI Yogyakarta ini menjadi bukti bahwa belajar seni budaya tak
harus melulu teori kadang, cara terbaik untuk mencintai musik tradisi adalah
dengan ikut memainkannya.