Siswa SMA Mutiara Persada Berprestasi dalam Ajang International Humanities Symposium di Singapura
- August 01, 2024
Siswa SMA Mutiara Persada menorehkan prestasi gemilang di ajang internasional, The 2024 International Humanities Symposium yang diselenggarakan di National Junior College, Singapura. Simposium yang berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2024, diikuti oleh peserta dari berbagai negara, termasuk Singapura, Vietnam, Jepang, dan Indonesia. SMA Mutiara Persada menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang turut berkompetisi dalam ajang bergengsi ini.
Dalam simposium ini, SMA Mutiara Persada mengirimkan dua kelompok siswa yang berasal dari kelas XI dan kelas XII. Kedua kelompok ini membawa topik penelitian yang sangat relevan dengan tantangan global, mulai dari isu lingkungan hingga pendidikan inklusif, yang kemudian dipresentasikan di hadapan peserta dari berbagai negara.
Krisis Pengolahan Sampah dan Membangun Inklusivitas bagi Penyandang Down Syndrome
Kelompok pertama terdiri dari siswa kelas XI, yaitu Frisya Aira Pradnya Lituhayu, Muhammad Haykal Aby Utama, dan Arda Damar Sahita. Mereka mengangkat topik penelitian berjudul “The Waste Management Crisis in Yogyakarta: Challenges and Strategies”. Penelitian ini berfokus pada krisis pengelolaan sampah yang sedang dihadapi Yogyakarta, kota yang terkenal sebagai destinasi budaya namun juga mengalami tekanan besar akibat peningkatan volume sampah.
Dalam presentasi mereka, kelompok ini menggali lebih dalam mengenai penyebab utama krisis sampah di Yogyakarta, termasuk kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang, minimnya fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, serta tantangan dalam menerapkan kebijakan pemerintah terkait lingkungan. Lebih dari itu, mereka juga menawarkan sejumlah solusi inovatif, mulai dari penguatan kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat, hingga usulan program pengelolaan sampah berbasis teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan.
Penelitian ini berhasil menarik perhatian juri karena pendekatannya yang tidak hanya berfokus pada identifikasi masalah, tetapi juga menawarkan strategi konkret yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak untuk mengatasi permasalahan ini. Kemampuan tim dalam menganalisis tantangan lokal dengan perspektif global dan menawarkan solusi yang realistis menjadi salah satu kekuatan utama yang membawa mereka meraih penghargaan bergengsi.
Kelompok kedua dari kelas XII terdiri dari Eleonora Hope Silalahi, Arya Gadha Wirapati, dan Annabel Keiysha Marzwella Bororing. Mereka membawa topik penelitian yang tak kalah penting, berjudul “Challenging Stigmas: Education and Employment Opportunities for Individuals with Down Syndrome”. Penelitian ini mengkaji stigma yang sering melekat pada individu dengan Down Syndrome, khususnya terkait akses terhadap pendidikan dan peluang kerja, serta bagaimana masyarakat dapat bergerak menuju inklusivitas yang lebih baik.
Dalam presentasi mereka, kelompok ini menyoroti fakta bahwa meskipun sudah ada kemajuan dalam bidang pendidikan inklusif, individu dengan Down Syndrome masih sering menghadapi diskriminasi dan keterbatasan peluang, baik di dunia pendidikan maupun dalam dunia kerja. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif dalam mendukung pengembangan keterampilan individu dengan Down Syndrome, sehingga mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat.
Kelompok ini menawarkan solusi berbasis kebijakan dan program pendidikan yang mendukung pengembangan keterampilan, mulai dari usia dini hingga dewasa. Mereka juga menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, serta perusahaan swasta untuk membuka peluang kerja yang sesuai dengan potensi individu penyandang Down Syndrome.
The Best Research Project
Setelah melewati serangkaian presentasi dan penilaian ketat dari para juri, kelompok dari kelas XI berhasil meraih penghargaan sebagai The Best Research Project dalam ajang ini. Penghargaan ini menegaskan kualitas penelitian mereka yang tidak hanya menawarkan analisis mendalam, tetapi juga solusi praktis yang dapat diterapkan untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah di Yogyakarta.
Penelitian yang dibawakan oleh Frisya, Haykal, dan Arda ini memang sangat relevan dengan tema dari panitia. Para siswa melihat krisis pengolahan sampah yang sekarang terjadi di Yogyakarta harus segera dianalisa dan diberikan solusi terbaik. Penelitian ini mengguanakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara kepada Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta, masyarakat yang tinggal di sekitar TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah Piyungan, dan masyarakat umum.
Penelitian Mengasah Sikap Kritis dan Kreatif
Kepala Sekolah SMA Mutiara Persada, Wahyudi Irwan Yusuf, yang turut hadir sebagai pendamping dalam ajang ini, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian para siswa. Menurut Wahyudi, partisipasi siswa dalam ajang internasional seperti ini memberikan pengalaman yang sangat berharga, tidak hanya dari segi akademis, tetapi juga dalam hal pengembangan diri.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bangga atas prestasi yang diraih para siswa kami. Dalam kegiatan ini, mereka dilatih untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menulis, serta mempresentasikan ide-ide di depan peserta dari berbagai negara. Ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk mereka belajar, berkompetisi, dan memperluas wawasan di kancah internasional,” ujar Wahyudi.
Dia juga menambahkan bahwa prestasi yang diraih tidak hanya merupakan hasil kerja keras para siswa, tetapi juga dukungan penuh dari para guru dan orang tua yang selalu mendampingi dan mendorong mereka untuk terus belajar dan berkembang. “Prestasi ini merupakan bukti bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan yang tepat, siswa kita mampu bersaing di tingkat internasional,” tambahnya.
Kompetisi ini menawarkan platform bagi para siswa untuk berbagi ide, berdiskusi, dan belajar tentang isu-isu global yang relevan dengan bidang humaniora. Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang budaya dan pendidikan memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memperluas perspektif mereka dan membangun jaringan internasional.
Wahyudi berharap bahwa prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi siswa-siswa lainnya untuk terus mengejar mimpi dan mengembangkan potensi diri mereka. “Kami berharap bahwa pengalaman ini akan memberikan inspirasi bagi siswa lainnya untuk tidak takut bermimpi besar. Partisipasi dalam ajang-ajang internasional seperti ini adalah peluang untuk belajar, tumbuh, dan memperluas wawasan,” kata Wahyudi.
Keberhasilan siswa SMA Mutiara Persada dalam The 2024 International Humanities Symposium di Singapura menunjukkan bahwa para siswa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam memecahkan masalah-masalah global. Dengan dedikasi dan dukungan penuh dari sekolah dan orang tua para siswa telah membuktikan bahwa mereka dapat bersaing di panggung internasional, membawa nama baik Indonesia di mata dunia. Prestasi ini menjadi awal dari perjalanan panjang menuju pencapaian-pencapaian berikutnya yang lebih gemilang.